Traveling tidak harus selalu beramai-ramai. Solo traveling justru memberi kebebasan untuk menikmati destinasi sekaligus mencari pengalaman dan sensasi pribadi. Berikut beberapa solo traveler dunia yang terkenal karena perjalanan mereka yang unik.
Toshifumi Fujimoto
Berbeda dari kebanyakan traveler yang mencari tempat indah dan nyaman, pria Jepang ini justru memilih mengunjungi negara-negara yang sedang dilanda konflik. Bosan dengan rutinitas sebagai sopir truk, Fujimoto mencari adrenalin dengan menjelajahi medan perang di Timur Tengah. Salah satu pengalaman paling mengharukan baginya adalah ketika memotret seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang tewas ditembak sniper di Suriah.
Graham Hughes
Graham Hughes dikenal sebagai traveler idealis yang menolak menggunakan pesawat. Ia mengaku telah mengunjungi 201 negara dengan empat aturan: tidak naik pesawat, menggunakan kendaraan sewaan atau pinjaman, memanfaatkan transportasi umum terjadwal, dan menginjakkan kaki di tanah setiap negara yang dikunjungi. Perjalanannya tidak selalu mudah; ia bahkan pernah dipenjara selama seminggu di Kongo dan Rusia.
Parvinder Chawla
Keterbatasan fisik bukan penghalang bagi Parvinder Chawla untuk menjelajah dunia. Menggunakan kursi roda sejak usia 15 tahun akibat rheumatoid arthritis, wanita ini tetap aktif traveling. Pada usia 46 tahun, ia telah mengunjungi 11 negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, seperti Jakarta dan Bali.
Elok Dyah Messwati
Elok Dyah Messwati merupakan salah satu solo traveler wanita Indonesia yang dikenal luas. Jurnalis ini mulai backpacking sejak SMP. Setelah lulus SMA, ia memperluas perjalanannya ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. Saat banyak remaja seusianya menghabiskan waktu untuk bermain dan berorganisasi, Elok sudah aktif menjelajahi Nusantara.
Young Kim
Traveler asal Korea Selatan ini mendapat julukan “Suitman” karena selalu mengenakan jas atau tuxedo saat bepergian. Ia bahkan tampil formal di tengah gurun pasir. Kim, seorang seniman keturunan Korea-Amerika yang tinggal di Hong Kong, mendapatkan ide tersebut sekitar 20 tahun lalu ketika melakukan perjalanan lintas negara di Amerika Serikat.



